Mak Eroh dan Simbol Perlawanan

Oleh Kelik Nursetiyo Widiyanto

Ada dua teori besar mengenai asal asul pembagian kerja berdasar jenis kelamin, nature (alam) dan nurture (kebudayaan). Teori pertama mengungkapkan bahwa perbedaan psikologis laki-laki dan perempuan disebabkan faktor biologis. Sementara teori terakhir beranggapan perbedaan ini terjadi karena proses belajar dari lingkungan. (Kusnadi, 2001) Di luar kedua teori itu ada banyak teori-teori lain yang meninteraksikan kedua hal tadi, biologis dan kultural.

Dalam realita kehidupan dalam keluarga, pekerjaan dipola menurut kehendak laki-laki. Hal ini terjadi karena laki-laki diterjemahkan sebagai kepala keluarga dan mempunyai kewajiban mencari nafkah untuk keluarganya. Perempuan yang bekerja di luar rumah, termasuk kategori pekerjaan ekonomis ketika ia berada di dalam rumah maka perempuan bertindak sebagai pekerja domestik. Menurut Sanday (dalam Kusnadi, 2001) aktivitas domestik mencakup aktivitas-aktivitas yang dilakukan dalam bidang-bidang pekerjaan yang hanya dibatasi pada ruang lingkup keluarga.

Gerakan feminisme membongkar peran dominan laki-laki atas perempuan. Gerakan ini multi perspektif, sehingga dalam memandang sebuah persoalan pun akan melahirkan banyak pemahaman sesuai cara pandang yang digunakan. Paradigma yang digunakan antara lain strukturalis, kultural, modern, post modern hingga feminisme Islam. Untuk yang terakhir pun memiliki latar belakang pemikiran yang berbeda, fundamentalis, moderat dan liberal. Namun, pada intinya, semuanya bertujuan mematahkan mitos laki-laki sebagai ‘penguasa’ perempuan. Dus, perempuan memiliki hak-hak yang sama sebagai manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

RA Kartini, Tjut Nyak Dien, Dewi Sartika beberapa tokoh perempuan Indonesia pejuang emansipasi perempuan. Untuk yang terakhir, merupakan pejuang perempuan asal tatar Sunda. Dewi Sartika seperti Kartini memiliki darah dari kalangan ningrat, tapi ia terasing karena konstalasi politik lokal saat itu. Atas bantuan bupati Bandung RAA Wiranatakusumah, pendidikan bagi kaum perempuan somah pun dimulai. Kebijakan bupati Bandung, keturunan menak Sumedang ini menunjukkan indikasi keberpihakan yang begitu besar dari eksekutif terhadap kemajuan pendidikan rakyatnya.

Jauh setelah itu, di era 1980-an, rakyat Jawa Barat memiliki pejuang emansipasi perempuan lain, Mak Eroh. Peraih Kalpataru pada 1988 ini bagi hemat penulis bukan sekedar pelopor pelestarian lingkungan saja tetapi menjadi ikon perlawanan kaum perempuan terhadap sistem yang ia hadapi. Benar yang dilakukannya ‘hanya’ membuat saluran air sepanjang 5 km, tetapi dampak bagi 25 hektar pesawahan di desanya dapat dibilang tidak sedikit. Dengan terairinya pesawahan mereka maka warga desa dapat bertani sepanjang tahun. Dari hasil pertaniannya itu ekonomi warga desa berputar. Mereka pun dapat menyekolahkan anak-anaknya.

Pembuatan saluran air, yang seharusnya tugas pemerintah, dibuatnya selama beberapa tahun tanpa mengenal lelah. Dalam benak Mak Eroh, tiada terpikir dengan mengulir bukit galunggung dengan paculnya itu sebagai bentuk perlawanan terhadap penindasan. Sesungguhnya, saat Mak Eroh bergelantungan di antara cadas-cadas terjal ia sedang berteriak kepada dunia, tanpa bantuan sistem yang ada pun aku mampu berbuat. Sistem yang membuat Mak Eroh dan warga desa tidak dapat mengolah lahannya. Sedangkan bila mereka tidak bercocok tanam, kemiskinan menggantung di pelupuk mata. Adalah ironi ketika Mak Eroh mampu membuat saluran air, yang digunakan tidak hanya oleh dirinya, hanya menggunakan peralatan seadanya, sementara pemerintah setempat dinilai lamban dalam mewujudkan pembuatan jalan menunju desanya. Rusaknya jalan, membuta Mak Eroh kesulitan ketika ia harus berobat ke rumah sakit daerah ketika ia jatuh sakit.

Intelektual, cendekiawan feminisme rasanya harus belajar kepada Mak Eroh yang tidak memiliki pengalaman pendidikan tinggi itu. Mak Eroh tidak pernah mengenal feminisme, gerakan kesetaraan gender, tetapi ia telah berbuat nyata, seperti Dewi Sartika. Pekerjaan mengikis gunung, yang secara biologis, merupakan pekerjaan laki-laki dikerjakan Mak Eroh. Lalu, teori laki-laki lebih maskulin dibanding perempuan yang feminim tidak berlaku bagi Mak Eroh. Ketika sawah telah terairi, lagi-lagi ia yang harus turun menyebar benih, membersikan tanaman dari huma hingga memanennya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Mak Eroh tidak memikirkan bahwa pengiburumahatanggan perempuan adalah bentuk proletariat perempuan. Tapi dengan ketulusan jiwa dan keikhlasan gerak ia berbuat untuk keluarganya.

Kedigdayaan Mak Eroh tidak pernah dikaji di perguruan tinggi. Kita hanya sekedar tahu ada wanita besi dari Cisayong, Tasikmalaya, yang mempunyai kekuatan dahsyat menggulung gunung menyisir bukit demi teralirinya sawah sebagai mata pencaharian warga desa. Kita pun hanya menggolongkan Mak Eroh sebagai pelestari lingkungan kebanggan Tasikmalaya, umunya Jawa Barat, dengan menghadirkannya di pentas-pentas kebudayaan. Tapi jauh dari semua itu kita tidak menyadari bahwa Mak Eroh sedang mengajarkan kepada kita untuk melawan penindasan laten di depan kita. Perlawanan terhadap penindasan yang kita terninabobokan olehnya. Resistensi terhadap penindasan yang membuat kita seakan-akan tidak sedang ditindas.

Bila Burma memiliki Aun Sansu Kyi, di Maroko ada Fatima Mernessy, maka di Tasikmalaya ada Mak Eroh. Mak Eroh tidak saja pantas dijadikan nama jalan, namun, buku-buku pelajaran di sekolah, perlu bahkan wajib mencantumkan namanya sebagai simbol membangun semangat perlawanan. Bila sejarah mencatat RA Kartini, Dewi Sartika dan pahlawan-pahlawan perempuan lainnya, hemat penulis, Mak Eroh layak untuk dijadikan pahlawan perlawanan perempuan. Bagaimana tidak, bila Kartini hanya sekedar ide, Dewi Sartika mengajar di sekitar pendopo kabupaten, kenapa Mak Eroh yang selama lima tahun membuat saluran air itu dan bermanfaat bagi warga desanya tak berjangka tidak kita sebut pahlawan. Jangan dilihat lingkup tempat ia mendarma baktikan hidupnya. Tetapi dengan banyaknya anak-anak di desanya dapat bersekolah, menghidupkan perekonomian desa. Itu semua tak tersaingi oleh pemerintah daerah sekalipun.

Seperti halnya Susi Susanti, yang berasal dari Tasikmalaya pula, mengharumkan nama Indonesia di kancah olahraga dunia membangun gelanggang olahraga, maka Mak Eroh setelah tak mampu lagi berlama-lama di sawah, bercita-cita membangun mushola di dekat rumahnya. Cita-cita yang belum terlaksana itu, menggambarkan kepada kita, bahwa perjuangan sekeras apapun harus berlandaskan keimanan kepada Yang Maha Kuasa. Janganlah perlawanan didasarkan kepada kebencian terhadap musuh, tetapi sebagai perlawanan terhadap penindasan untuk pembebasan. Pembebasan dari keterkungkungan pemikiran, pembebasan dari keterpenjaraan jiwa. Tuhan menitipkan orang-orang miskin kepada kita, Mak Eroh menjawabnya dengan mengairi sawah-sawah mereka. Tetapi kemiskinan enggan berlalu. Jika kita memiliki semangat Mak Eroh untuk melawan penindasan laten itu dan berpondasikan keilahian, insya Allah keterbebasan di depan mata.

Praksis emansipatoris yang dilakukan Mak Eroh entah masuk ke dalam kategori gerakan feminisme yang mana. Atau kita daulat saja Mak Erot sebagai pelopor mazhab baru perlawanan kaum perempuan yang menggunakan medium lingkungan. Namun, agar tidak menjadi mitos, semangat Mak Eroh harus ditularkan kepada perempuan-perempuan lainnya. Agar kelak, lahir pejuang-pejuang perempuan lainnya yang tidak berlandaskan kekecewaan terhadap kaum adam tetapi memiliki kesadaran diri untuk bangkit dari keterlenaan. Akhirnya, sepeninggalnya Mak Eroh pada 19 Oktober lalu tidak menjadikan dunia berlama-lama dalam kesedihan, sebab bukan itu yang Mak eroh inginkan, perjuangan harus terus berjalan. Selamat jalan Mak Eroh, nantikan kami di Surgamu.

Penulis, Pegiat Tepas Institute, alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UIN SGD Bandung. http://maskelik.multiply.com/journal/item/25

~ oleh immgunungjati di/pada November 13, 2007.

Tinggalkan Balasan