Merindukan Satria Kontemporer
Oleh AMIN R ISKANDAR
DALAM sebuah keterangan di katakan, “Akal yang sehat terletak dalam jiwa yang sehat”. Jika kita terapkan teori usul fiqih, ‘maf’ul mukholafah’, berarti, jiwa yang sakit akan melahirkan akal yang sakit pula. Dan sudah barang tentu segala produk dari produser yang sakit adalah barang yang sakit.
Jiwa, berdasarkan stuktur postur tubuh manusia terletak dalam raga. Artinya jiwa adalah ruh kehidupan penggerak raga seluruh makhluk hidup yang ada di dunia. Pada dasarnya seluruh makhluk di muka bumi adalah benda mati. Hanya karena Tuhan menanamkan ruh di dalamnya, maka makhluk tersebut bergerak dan lantas disebut makhluk hidup. Manusia tanpa ruh tak ubahnya sebongkah mayat tanpa nyawa yang tergeletak di atas bumi dan siap untuk dikubur di dalam tanah.
Tempo dulu, tatar Sunda (Jawa Barat) dipenuhi oleh para satria, dan jawara. Ketika pemerintahan di lokal Sunda masih berbentuk kerajaan. Mengapa, sebab untuk mempertahankan kerajaan, menaungi, melindungi, dan mengayomi rahayat-nya. Pihak kerajaan perlu lapisan para kesatria demi mengantisipasi serangan dari pihak luar (musuh). Terutama dari para jawara.
Maka tak heran jika urang Sunda terkenal dengan kesaktian wawanen dan ilmu pangaweruh (mistis). Pesalnya semenjak usia dini anak-anak urang Sunda sudah mulai dibekali oleh orang tuanya dengan olah raga dan olah jiwa yang dikenal dengan latihan kanuragan. Yang untuk konteks sekarang telah diperhalus (modern) istilahnya menjadi perguruan pencak silat. Dan untuk zaman sekarang pun, tidak jarang Jabar melahirkan petarung-petarung pakalangan yang tidak kalah berkualitas dari daerah-daerah lain.
Kalau ditilik dari makna katanya, “jawara”, menurut Kamus Umum Basa Sunda dari Lembaga Basa & Sastra Sunda dengan penerbit Tarate Bandung, berarti orang yang sok jago, ngajago, dan gelar atau sebutan bagi orang sakti mandra guna bertipikal buruk, licik, arogan, kaniyaya, dan tidak mengenal kata toleran. Yakni kalangan orang sakti yang senantiasa memperebutkan kekuasaan, permaisuri, dan harta benda.
Seiring perjalanan waktu atau perkembangan zaman, kalangan jawara dikenal sebagai orang-orang yang berjuang demi mendapatkan status sosial tertinggi di lingkungan kehidupannya. Dengan cara tarung ngadu jajaten, siapa paling kuat dialah pemenangnya.
Beda halnya dengan “satria” yang masih berdasarkan Kamus Umum Basa Sunda, adalah manusia dari golongan perajurit. Kalau mengacu pada kasta masyarakat Hindu, Satria berarti manusia yang besar wawanen (keberanian) serta bersikap jujur, tidak pernah cidra, tidak pernah nyilok-bohong (dusta), cinta terhadap rahayat, dan berani mengakui segala kesalahan yang diakibatkannya.
Artinya, satria meski bukan raja, adalah cerminan dari sosok pemimpin yang bersikap adil, jujur, terbuka, dan cinta akan rakyatnya. Dengan sikap berani mengakui segala kesalahan saja sudah mencerminkan adanya niat mulia dalam hati untuk memperbaiki segala kekeliruan langkah dalam memerintah. Bukan malah menutup-nutupi kesalahan dan memungkiri segala dosa padahal benar adanya.
Sungguh hebat dan mulia saya pikir pemerintah Jabar pada zaman dulu. Demi melindungi, membela, menaungi dan mengayomi rahayat-nya, pihak pemerintah (kerajaan) siap dan berani berjuang mati-matian demi rakyatnya. Bahkan sampai perang sekalipun, raja siap berdiri di barisan paling depan dan meski sampai gugur di medan pertempuran. Sebab itu merupakan satu kehormatan terbesar bagi pemimpin yang sesungguhnya, yakni bisa berbagi kehormatan dengan rakyat yang dipimpinnya.
Bila warga Jabar memiliki sejarah (luluhur) kepemimpinan berjiwa satria tempo dulu, mestinya dapat mewariskan sikap ke-satria-an itu pada pemimpin-pemimpin di masa sekarang. Yakni pemerintahan Jabar yang dapat mengayomi, menaungi, dan melindungi rahayat-nya secara adil, jujur, dan berpihak terhadap rakyatnya. Bukan malah menjadi pemerintah bertipikal menindas, menjajah, dan tidak berpihak akan rahayat-nya.
Itulah yang saya sebut dengan satria kontemporer, zaman ayeuna. Pemimpin yang berani dengan terbuka mengakui segala kekurangan diri, kesalahan, dan segala dosa yang diperbuat terhadap rahayat-nya. Pasalnya satu bentuk pengakuan akan kesalahan adalah cerminan akan adanya niat baik untuk intropeksi diri menuju jalan yang benar.
Bukan tipikal jawara yang numpang hirup dengan menggadaikan kesaktiannya (intelektual) untuk kepentingan pribadi. Bermental korup, pragmatis, dan licik. Itu tercermin dalam paroman, mimik muka penuh ketakutan tatkala ada wacana atau indikasi yang menyebutnya korup, tidak mampu memerintah dan terbilang gagal. Dengan berdalih, banyak alasan, dan pembelaan. Sampai gagalapakan mencari dukungan dan perlindungan. Padahal jika benar-benar merasa tidak bersalah, mengapa pula mesti ketakutan (?).
Sesuai dengan kata Jabar, yang menurut bahasa Arab berarti sakal yang ada di atas hurup-hurup hijaiyah. Artinya Jabar (sakal) diciptakan untuk menaungi segala (hurup) hal-hal yang ada di bawahnya. Yang dalam konteks pemerintahan berarti pemimpin yang dapat menuntun, mengayomi, dan menaungi rahayat-nya baik yang besar, kecil, apalagi yang paling kecil, rakyat lemah. Seperti sakal (jabar) yang menaungi hurup ‘alip’ hingga hurup ‘iya’, hurup hijaiyah seluruhnya.
Akhirnya saat sekarang kita butuh, merindukan satria kontemporer, zaman ayeuna. Manusia yang menyandang nilai-nilai spiritualitas tinggi (sehat jiwa), dan humanitas mulia (sehat raga). Yang dapat membawa Jabar menuju ke kemakmuran, kesetaraan, dan kedamaian yang geumah-ripah, repeh-rapih, geunah-meureunah dan tuma’ninah.***
Penulis, Mahasiswa Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati, Pegiat Studi Agama dan Kearifan Lokal Sunda, Aktivis IMM UIN Bandung.

Tinggalkan Balasan