Nasionalisme Mojang dan Jajaka?

Nasionalisme“Mojang” dan “Jajaka”?

Oleh SUKRON ABDILAH

Di wilayah tatar Sunda pemuda dan pemudinya kerap disebut dengan jajaka dan mojang. Jajaka Sunda yang berwibawa, waspada dan gagah berani atau tegas adalah modal awal membangun wilayah Nusantara yang berkeadilan dan berkesejahteraan. Adapun mojang Sunda adalah partner dari jajaka yang mestinya mencerminkan kreativitas seorang perempuan dalam membangun kedaulatan daerahnya dan negeri Indonesia . 

Maka, eksistensi mojang dan jajaka semestinya bisa memberikan secercah cahaya perbaikan, khususnya bagi warga Jawa Barat, umumnya bagi seluruh rakyat Indonesia . Meskipun berasal dari etnik Sunda, mereka harus bisa berposisi sebagai duta kebudayaan lokal dan nasional, dengan melakukan tugas-tugas pemberdayaan masyarakat marjinal. Itulah tujuan inti dari berkumpulnya pemuda-pemudi pada tahun 1928, yakni agar keragaman kultural di bumi pertiwi mengerucut pada satu tekad perjuangan. Keadilan dan kesejahteraan rakyat Indonesia .

Lantas, bagaimanakah dengan peran mojang dan jajaka di era kontemporer seperti sekarang ini? Apakah rasa kesukuan mesti ditonjolkan ketika dirinya ngajowantara ditingkat Nasional? Ataukah sama dengan nasib generasi muda “hedonis” lain yang hura-hura menikmati hidup, sementara itu peran fungsional bagi kemajuan bangsa dilupakan?

Nasib kebudayaan

Berbicara tentang kebudayaan kita, nasibnya seakan terkatung-katung. Dari nama departemennya saja posisi budaya di Indonesia dan khususnya di Jawa Barat tidak sejajar dengan pendidikan. Ya, istilah sekarang adalah dinas kebudayaan dan pariwisata (Disbudpar). Dalam konteks ini, kebudayaan hanya dijadikan ajang tontonan turis asing mancanegara dan domestik saja. Sementara itu, falsafah hidup kesundaan yang diwariskan Ki Sunda, umpamanya, luput dari ingatan generasi muda di Pasundan.

Meskipun pada tahun-tahun yang lalu kebudayaan sempat memeroleh tempat duduk yang sejajar bersama bidang pendidikan dengan nama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Depdikbud). Namun, hal itu tidak dapat bertahan lama. Kini posisinya ditempatkan pada bidang pariwisata yang menggusur eksistensi kebudayaan jadi semacam “komersialisasi terselubung”, sehingga makna aslinya kian terpinggirkan. Eksistensi kebudayaan kita menjadi tidak mandiri.

Dahulu semasa Orde Lama, mendiang presiden Soekarno pernah melarang bertebarannya kebudayaan musik “ngak-ngik-ngok” dan model pakaian “you can see” yang berasal dari “Barat”. Sebab, disinyalir dapat menyingkirkan jati diri asli bangsa Indonesia sehingga kesadaran untuk melestarikan kearifan budaya lokal, umpamanya luput dari aktivitas keseharian generasi muda.

Maka, prosesi pemilihan mojang dan jajaka Jawa Barat yang dilaksanakan rutin setahun sekali semestinya melahirkan generassi muda yang piawai dan berkesadaran untuk mempertahankan eksistensi budaya di tiap daerah. Karena itu, jangan hanya dijadikan sebagai ajang menghambur-hamburkan dana rakyat sementara itu mojang dan jajaka secara kualitas tidak mampu menjadi duta pemelihara dan penjaga keragaman budaya serta nihil dari semangat memajukan bangsa.

Duta kebudayaan

Mojang dan jajaka sebagai generasi muda Sunda, mesti memiliki peran yang tidak hanya bersifat sesaat. Misalnya, hanya dipajang ketika ada kunjungan duta budaya dari luar wilayah Sunda atau dari luar negeri saja. Setelah kunjungan selesai, mojang dan jajaka pun kembali kepada kehidupan sehari-hari kaum muda yang kabaruang racun yang disebarkan arus globalisasi.

Dalam posisi demikian budaya Sunda juga hanyalah dijadikan sebagai arena tontonan, bukan tuntunan; sehingga tidaklah heran jika para pinilih mojang dan jajaka Sunda tidak mampu merespon problem kehidupan warga di Tatar Sunda. Jika betul bahwa pemilihan mojang dan jajaka dilaksanakan untuk mengembalikan eksistensi budaya Sunda ditingkat nasional dan internasional; toh kenapa atmosfer kesundaan hanya terasa dalam suasana pemilihan saja.

Kabaya khas Sunda, gelung, samping, bendo, bahasa Sunda dan gaya berjalan yang rengkuh sebagai gambaran karakter barudak ngora, katanya “nyunda” itu, hanya dapat dirasakan pada saat acara-acara tersebut. Namun, pada hari-hari biasa kamarana lumpatna keluhungan budaya mojang dan jajaka Sunda?

Satu generasi muda Sunda yang semestinya menjadi duta budaya yang tidak hanya mencakup keindahan produk material dari budaya an sich. Melainkan mesti mengenalkan kearifan, keluhungan dan keindahan falsafah hidup warga lokal di tatar Sunda sehingga dapat dijadikan modal untuk membangun keharmonisan ketika berbangsa, beragama, dan bermasyarakat. Sebab, meskipun urang Sunda berhilir-mudik dengan warga non-Sunda kita tidak pernah merasa sombong, merendahkan etnis lain, dan tentunya acapkali hidup rukun berdampingan dengan para pendatang. Dalam bahasa Sunda, terkenal dengan pribahasa “someah hade ka semah”. 

Mengikis etnosentrisme

Dalam konteks kekinian, ikatan primordial kesukuan Sunda di Jawa Barat jangan terlalu dijadikan sebagai pemecah belah rajutan kolektif warga. Sebab, pada tanggal 28 Oktober 1928 juga para pemuda dan pemudi dari seluruh wilayah di Nusantara yang beragam kultur, keyakinan dan bahkan religi bersatu padu menghimpun kekuatan agar generasi muda memiliki peran bagi nasib bangsa ke depan.

Maka, ketika wilayah Indonesia yang dipenuhi oleh kekayaan etnis yang berjumlah ratusan, mojang dan jajaka Sunda semestinya mampu mengikis rasa kesukuan, karena hal itu dapat memecah belah integritas, bahkan menanamkan benih-benih etnosentrisme. Apalagi, mereka sebagai generasi muda yang kerap didukung secara fanatik oleh pendukungnya seperti halnya dalam acara reality show, tidak diciptakan menjadi masyarakat sadar budaya sesaat. Dalam bahasa lain, setelah prosesi pemilihan mojang dan jajaka selesai dilangsungkan para pinilih tidak boleh kembali tak menyadari keberadaan budaya sendiri dan kebudayaan lain.

Oleh sebab itu,  mengikis etnosentrisme dalam kehidupan adalah pekerjaan rumah yang mesti dileunyeupan oleh mojang dan jajaka Sunda sehingga rasa persatuan dan kesatuan bangsa tidak bakal terpecah-pecah. Dalam posisi seperti demikian, eksistensi mojang dan jajaka Sunda harus bisa memantik semangat generasi muda lain untuk memajukan bangsa, memadamkan api konflik dengan warga non-Sunda di Jawa Barat, dan yang paling utama tiasa turun ka warga kalangan bawah.

Itulah mojang dan jajaka Sunda yang seharusnya dipegang saat ini, karena sebagai generasi muda, pada tahun 1928 juga mereka menyatukan rasa meskipun berbeda-beda bahasa dan budaya untuk kemajuan negeri Nusantara. Maka pada konteks kekinian, mereka semestinya berperan penuh memajukan aspek sosial, ekonomi, politik dan budaya di daerah Jawa Barat dan Indonesia raya. Karena, mengutip statement Bung Karno, di pundak generasi mudalah nasib bangsa ditentukan. Wallahua’lam

Diterbitkan Kompas Jawa Barat, 15 Desember 2007.

~ oleh immgunungjati di/pada Desember 21, 2007.

Tinggalkan Balasan