Ode untuk Meulaboh

Kelik Nursetiyo Widiyanto

 Samudera itu tiba-tiba surut. Seakan ada lubang maha besar di dasar laut yang terbuka dan menyedot air laut hingga menurunkan permukaan. Ikan-ikan menggelepar di dasar laut yang mengering. Hewan-hewan laut lainnya tersengal mencari habitatnya sesak mencari air sebagai nafasnya. Masyarakat nelayan di bibir pantai Meulaboh terheran dengan fenomena alam ini. Kiamatkah ini?

Tiba-tiba air laut itu memburu daratan yang ditinggalkannya. Tidak! Tidak hingga bibir pantai saja. Tidak hanya mengabulkan doa sang ikan yang merindukan tempat hidupnya. Air itu berlomba menyelusup setiap jengkal demi jengkal daratan. Menenggelamkan rumah-rumah nelayan, membalikkan perahu mereka, mengejar orang-orang yang berlari menjauh. Di lepas pantai delapan pulau hilang beserta isinya, tak berbekas.

Ombak setinggi pohon kelapa menyambar setiap benda yang ada di depannya. Tak peduli rumah Tuhan, jabang bayi yang baru menghirup udara dunia, nenek renta bongkok yang berdiri hrus dibantu dengan tongkat, tentara dengan senjata terkokang, nelayan dengan jala terkoyak semua disapunya. Laut murka! Gelombang itu melebihi kecepatan lari manusia. Frekuensi langkah kaki tak ada apa-apanya dibanding dengan derasnya sang gelombang.

Dalam waktu 20 menit saja Meulaboh luluh lantah. Kurang dari setengah jam saja tak ada lagi kehidupan di sana. Tak ada lagi helaan nelayan, tak ada lagi kayuhan sepeda, tak ada lagi alunan ayat-ayat suci, tak ada lagi adzan. Yang tertinggal hanyalah keheningan, kesunyian, puing berserakan, bau mayat bercampur bangkai hewan. Semuanya menyisakan kepiluan.

Kabar bencana menyebar secepat kilat. Menyadarkan kita yang jauh dari Aceh dan Sumut. Telah terjadi bencana di serambi Mekah! Gempa dengan kekuatan 9 skala Riechter disusul gelombang Tsunami memporakporandakan setiap sendi kehidupan saudara kita. Adzabkah ini? Atau Musibah? Apakah Tuhan sedang menguji hambanya? Yang pasti Allah sesuai prasangka hambanya. Dan yang pasti pula tragedi itu menyisakan ladang amal bagi kita.

Umat bersatu tak peduli apa profesinya, tak peduli kaya dan miskin, semua orang dengan kemampuan dan potensi diri yang dimiliki menyerahkan sisi kemanusiaan dalam dirinya. Selembar uang, sepasang pakaian, sedikit makanan, mereka sumbangkan guna menghalau kesedihan dari tanah rencong.

Saudaraku, Tuhan tidak membencimu, mungkin ini adalah ayat-Nya yang mesti kita baca. Jangan kau menyalahkan takdir, sebab takdir bisa berubah. Tapi, jangan kau tahan air matamu, menangislah. Menangislah, menjeritlah, mungkin itu yang saat ini bisa kau lakukan.

Kami, saudara-saudaramu di negeri seberang turut merasakan duka itu. Tetaplah semangat, bangkitlah sedikit demi sedikit. Kita tak akan tinggal diam dengan penderitaanmu itu. Sebab kita saudara.

 

***

Tuhan menyentil kita dengan gempa dan gelombang Tsunami. Tuhan menurunkan peringatan bagi makhluknya. Pertikaian Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menyitir bangsa, tidak ada yang lebih berhak mengatur manusia kecuali Allah. Ketamakan kekuasaan yang didemonstrasikan GAM dengan TNI dan Polri (atas nama NKRI) menyadarkan kita tidak ada yang lebih Maha Kuasa selain Allah.

Kekuasaan Tuhan yang diamanahkan kepada manusia sejatinya sebagai bentuk kedloifan manusia dihadapan-Nya. Manusia-manusia yang haus—bahkan rakus—kekuasaan mendlolimi manusia lain sebagai makhluk yang harus ditundukkan dan pasrah dihadapan dirinya. Ia mengstatus quokan kekuasaan Tuhan pada dirinya sebagai kekuasaan dirinya an sich.

Tragedi ini, sesungguhnya Tuhan sedang mendemonstarsikan secuil saja dari keMahaKuasaan-Nya. Apa yang kita bisa lakukan dengan ‘jeweran’ Tuhan itu. Tak ada, hanya ucapan innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Dari Allah kita berasal kepada-Nya kita kembali. Dari Allah kita mendapat kekuasaan, kepada Allah kita mengembalikannya.

Tak usah merenggut dengan diambilnya kembali kekuasaan Tuhan pada diri kita. Hanya sadarkah kita apa yang telah kita lakukan dengan kekuasaan itu? Sadarkah kita bahwa kekuasaan terkadang mengangkat dan tak jarang pula menjatuhkan kita.

Tidak ada yang tidak berduka. Semua orang berduka. Tapi, tidak sedikit dalam kedukaan itu  ada orang yang memancing di air keruh. Kedukaan itu dimanfaatkannya untuk melampiaskan nafsu kekuasaan yang tak terkendali dalam libido ketamakannya. Ia tega mendlolimi sesama yang sudah dloif. Ia tidak tahu bahwa Allah bersemayam di rumah orang-orang yang terdlolimi. Dan Allah mengabulkan doa orang-orang yang tertindas. Bisa saja tragedi merupakan jawaban Allah atas doa-doa yang dipanjatkan orang-orang tertindas di muka bumi ini.

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami: ampunilah kami: dan rahmatilah kami: Engkaulah penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Amin***

 

~ oleh immgunungjati di/pada Desember 21, 2007.

Tinggalkan Balasan